10 Trik Membangun Tim Kerja yang Solid dan Tangguh



Siapa tidak mau memiliki tim kerja yang solid dan tangguh? Rasanya tidak ada. Setiap organisasi pasti bukan hanya mendambakan tercapainya tujuan utama, tetapi bagaimana mempertahankan tim kerja agar tetap kompak untuk bersama-sama bekerja dan mencapai tujuan bersama.

Orang-orang atau pekerja adalah aset organisasi yang paling mahal. Mengapa bisa dikatakan paling mahal?

Anda tidak akan menemukan aset yang semakin hari bisa diasah untuk menjadi lebih baik. Anda memberikan pekerja perhatian, mereka akan membalasnya dengan kinerja. Apresiasi dibalas inovasi. Kepedulian organisasi menciptakan kekuatan aset yang seolah tidak bisa mengalami depresiasi nilai.
Karena itulah, banyak organisasi yang rela menghamburkan dana mereka untuk menciptakan tim kerja yang solid, tangguh, inovatif, dan meningkatkan nilai secara keseluruhan. Akan tetapi, menciptakan aset yang semakin baik ini tak melulu harus dengan pengorbanan uang. Terkadang, sikap kepemimpinan dari tingkat manajerial bisa membantu organisasi mewujudkan tim kerja yang hebat namun tidak boros. Bagaimana membangun tim solid nan tangguh dengan metode non finansial semacam ini?
  1. Cara Komunikasi Menentukan Kesuksesan Hubungan

Hubungan yang sukses adalah hubungan dengan sistem komunikasi yang baik.
Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Hal ini termasuk dengan bagaimana mereka berkomunikasi dan memahami orang lain. Kesuksesan cara pertama ini akan melibatkan antar anggota secara personal.

Sebuah tim yang solid terdiri dari anggota yang bisa berkomunikasi dan memahami satu sama lain.

Hal ini berarti setiap orang sudah memahami cara komunikasi antar anggota. Ada satu orang yang kalau berbicara berapi-api, sementara lainnya sudah bisa jelas hanya dengan nada datar namun diksi yang baik. Ketika setiap anggota sudah bisa menerima cara komunikasi masing-masing, yang mungkin melewati masa koreksi, satu langkah menuju tim solid sudah sukses dijalani.
  1. Pertegas Masing-masing Peran dan Tanggung Jawab

Salah satu keburukan dari kelompok kerja pada umumnya adalah tidak memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Setiap orang dalam kelompok kerja pasti memiliki tempatnya masing-masing. Ada yang bertugas sebagai pemimpin, bagian administrasi, bagian promosi, pengelolaan manusia, dan lain-lain. Adalah sebuah hal yang sangat baik ketika setiap orang bisa berkarya sesuai peran dan tanggung jawabnya.

Anda sebagai manajer tidak perlu memaksa mereka untuk bisa multitasking.

Hal itu justru buruk. Kinerja seseorang yang fokus pada tugasnya masing-masing jauh lebih baik dibandingkan ketika tugasnya dicampur adukkan, apalagi dengan tugas yang bukan merupakan porsi kompetensi anggota kelompok kerja.
  1. Pertegas Tujuan Kelompok Kerja

Agar tugas dan pekerjaan mereka tidak melenceng dari jalur, selalu tekankan tujuan utama kelompok kerja ini.
Banyak distraksi yang mungkin memengaruhi kinerja setiap orang, mulai dari hal-hal yang bersifat privasi sampai dengan masalah bersama. Ketika anggota kelompok kerja mulai melenceng dari jalur pekerjaannya atau lesu di tengah jalan, ingatkan kembali akan visi dan misi organisasi, ingatkan mereka tentang hal-hal apa yang mendasari mereka berjuang hingga saat ini. Terkadang, anggota membutuhkan perhatian dalam bentuk dukungan moral yang mungkin selama ini sulit mereka dapatkan.
  1. Apresiasi Kinerja Karyawan, Beri Ruang untuk Berinovasi

Setiap orang itu unik dengan caranya masing-masing. Mereka memiliki potensi yang sebaiknya tidak dilewatkan oleh organisasi hanya karena memenuhi hasrat pribadi: mencapai tujuan besar yang selama ini diimpikan.

Mengapresiasi karyawan atas pencapaian yang sudah mereka lakukan adalah hal mutlak yang tidak boleh dilupakan.

Apresiasi itu bisa bermacam-macam bentuknya, mulai dari sanjungan sebagai apresiasi moral sampai pemberian insentif sebagai ungkapan syukur dan terima kasih organisasi terhadap pencapaian anggota yang mendorong kinerja organisasi secara keseluruhan. Jangan ragu untuk memberikan ruang yang cukup bagi para anggota kelompok kerja guna berinovasi. Anda tidak pernah akan bisa memahami bagaimana orang-orang ini mensukseskan tujuan kelompok kerja melalui caranya masing-masing. Sejauh hal itu tidak melenceng dari budaya dan tujuan organisasi, mengapa harus dilarang?
  1. Dukungan yang Cukup dari Organisasi

Jika organisasi menuntut karyawan atau pekerja mereka memberikan yang terbaik bagi organisasi sehingga bisa mencapai tujuan besarnya, sekarang coba tanyakan apa yang sudah diberikan organisasi pada para pekerja untuk mendukung mereka berkarya?
Kebanyakan organisasi akan menjawab bahwa mereka sudah mengerahkan segalanya (dan itu pasti berhubungan dengan uang!) untuk mendukung kinerja anggota kelompok kerja. Padahal, bisa jadi hal itu bukan yang dibutuhkan mereka. Bentuk dukungan organisasi bukan hanya dengan penyediaan fasilitas fisik tetapi juga bagaimana sistem dalam organisasi tidak membatasi ruang gerak pada pekerja. Penerimaan ide, pembebasan inovasi, sampai dukungan untuk selalu kompak adalah bentuk-bentuk dukungan non fisik yang juga dibutuhkan anggota kelompok kerja.
  1. Seimbangkan Antara Tugas dan Senang-senang

Sedikit orang yang sudah cukup puas ketika menyelesaikan pekerjaan mereka. Sebagian orang lain mungkin merasa sudah sangat jenuh untuk berhadapan dengan rutinitas kerja setiap harinya.
Organisasi diharapkan bisa memberikan waktu bersenang-senang bagi para pekerjanya. Betul bahwa organisasi mengharapkan pekerja bisa mengerahkan tenaga mereka untuk membangun organisasi ini dari kecil hingga menjadi raksasa. Tetapi tanpa adanya keseimbangan antara tugas dengan hal-hal yang menyenangkan anggota kelompok kerja, organisasi hanya akan mendapati kinerja mereka yang stagnan atau mungkin turun.
Menyeimbangkan antara tugas dan kesenangan anggota kelompok kerja bisa diwujudkan dengan penyediaan ruang hijau dan area sosialisasi, penyediaan fasilitas fisik seperti kantin yang memadai, atau bahkan agenda rekreasi bersama.
  1. Toleransi yang Tinggi Akan Menciptakan Rasa Saling Menghormati

Solid dan tangguhnya sebuah tim tidak akan terjadi tanpa adanya toleransi.
Setiap orang berbeda dan mereka unik. Tetapi hal ini bisa menjadi boomerang ketika antar anggota tidak bisa toleransi dan menerima perbedaan itu. Jika sikap seperti ini dipertahankan, organisasi tidak bisa mendapatkan tim yang solid apalagi tangguh. Sedikit perbedaan saja sudah bisa memecah tim kerja yang kecil, bagaimana jika tim kerja tersebut dalam taraf organisasi secara keseluruhan?

Penerimaan dan toleransi adalah budaya organisasi yang mutlak harus ditumbuhkan.

Jika masih ada diskriminasi terhadap perbedaan yang ada, organisasi tidak akan pernah bisa maju karena terhambat hal kecil yang selalu menyandung.
  1. Jangan Sekadar Perintah, Berikan Contoh Nyata!

Peran pemimpin tim kerja dan organisasi menjadi hal yang harus ada. Seorang anggota kelompok kerja mungkin bisa menerima spesifikasi tugas yang diberikan dan mengerjakannya sesuai kompetensi, namun ketika melihat tidak adanya dukungan dalam bentuk contoh nyata terutama dari pemimpin, ia bisa saja mengalami penurunan kinerja. Mengapa? Karena ia merasa bahwa pemimpinnya (atau mungkin anggota kelompok kerja lain) bisa melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan atau tidak sesuai dengan perkataannya, jadi mengapa ia tidak bisa berperilaku hal yang sama?

Metode kepemimpinan dengan hobi memerintah sudah bukan lagi budaya kerja yang menjadi trend. Kelompok kerja akan lebih maju ketika pemimpin mereka bukan sekadar omong doangtetapi juga memberikan contoh nyata mengenai apa yang sebenarnya ia harapkan dari orang lain.

Jika Anda sebagai pemimpin menginginkan tim yang terbuka, tunjukkan sikap terbuka dan toleransi lebih dulu. Menginginkan tim yang disiplin? Biasakanlah lebih dulu. Orang cenderung mempercayai apa yang sudah mereka lihat dan mengaplikasikannya ketika orang lain sudah lebih dulu melakukannya.
  1. Keterbukaan Di Antara Anggota Tim

Karena ini kepentingan satu tim, penting bagi kelompok kerja untuk mereka memiliki rasa keterbukaan antara satu orang dengan lainnya.
Keterbukaan ini tidak berarti mereka harus mengutarakan semua hal termasuk yang menjadi privasi ke anggota kelompok kerja lain. Keterbukaan yang dimaksud dibatasi oleh kepentingan bersama yaitu kepentingan kerja. Punya ide-ide baru? Utarakan! Punya keluh kesah? Bicarakan! Punya kritik tapi siap dengan saran yang membangun? Jangan ragu untuk mengatakannya. Kebanyakan orang menutup-nutupi isi hati mereka demi menjaga keadaan yang sepintas terlihat baik-baik saja. Padahal lama-kelamaan, kondisi seperti ini bisa menjadi bom waktu yang membunuh tim secara keseluruhan.
  1. Saling Percaya!

Langkah terakhir yang menjadi penutup untuk membangun tim kerja yang solid dan tangguh adalah ketika mereka mengisi tim tersebut dengan orang-orang yang bisa saling mempercayai satu sama lain.
Bukan perkara mudah ketika Anda harus percaya pada orang yang baru Anda kenal apalagi yang sudah memiliki stereotip buruk dalam pikiran Anda. Percayalah, hal seperti ini lumrah dialami banyak orang. Perbedaannya, akan menjadi hebat ketika Anda bisa profesional dalam mempercayai orang. Wujudkan dengan sikap membiarkan mereka bekerja dengan caranya sendiri, sesuai porsinya, tidak melulu mengkritik hasil pekerjaannya. Sikap-sikap kecil seperti ini bisa menyelamatkan tim Anda dari kehancuran karena tidak adanya rasa saling percaya antar anggota kelompok kerja.
10 langkah ini adalah rangkaian trik yang cukup ampuh mewujudkan tim yang solid dan tangguh. Karyawan Anda mungkin bukan hanya membutuhkan perhatian yang bisa dinilai dengan uang, tetapi juga bagaimana mereka diperlakukan. Organisasi yang bisa memberikan perlakuan sebaik mungkin terhadap pekerja bisa disamakan dengan berinvestasi secara tepat.

Ketika organisasi berhasil mewujudkan tim yang solid dan tangguh, bukan hal yang tidak mungkin kinerja mereka melejit jauh dari ekspektasi selama ini.


Facebook Comments